Salah satu temuan di dinding tambang batubara berupa fosil tumbuhan sejenis pakis yang disebut pteridosperm memiliki daun selebar sekitar 6 centimeter.
Para pekerja sebuah tambang batubara di Illinois, AS terkejut saat melihat lukisan di dinding tambang yang menggambarkan pemandangan masa lalu. Setelah mengebor emas hitam yang mereka inginkan, pada langit-langit gua bekas pengeboran terlihat jejak lumut, semak belukar, dan tumbuh-tumbuhan purba lainnya. Sebagaimana dilaporkan dalam jurnal Geologi edisi terbaru, fosil vegetasi purba yang diperkirakan berumur 300 juta tahun memenuhi kawasan tambang hingga seluas 10 kilometer persegi. Ini merupakan fosil hutan terbesar yang pernah ditemukan.
“Kami turun ke tambang sampai sekitar seratus meter di bawah permukaan tanah. Kami kemudian menyusuri orong-lorong gelap gulita yang panjangnya beberapa kilometer dengan fosil hutan di langit-langitnya,” ujar Dr. Howard Falcon-Lang, pakar kebumian dari Universitas Bristol yang menemukan situs tersebut. Hanya dengan lampu penerang di bagian atas helmnya, ia dan sejumlah peneliti gabungan dari AS dan Inggris dapat memetakan hutan purba tersebut.
Mereka menemukan jejak keragaman ekologi yang sangat kompleks. Jenis tumbuh-tumbuhan paling banyak ditemukan berupa sejenis pakis yang tingginya sekitar 4 meter dan membentuk sub-kanopi yang menaungi vegetasi di bawahnya. Namun, ada jenis paku-pakuan raksasa yang tingginya mencapai 40 meter.
“Temuan ini sangat bernilai,” ungkap Profesor Andrew Scott, akar paleobiologi dari Royal Holloway University London, Inggris. Kenakeragaman hayati yang jelas terlihat dari kumpulan fosil tumbuh-tumbuhan menjadi sumber informasi yang penting untuk mempelajari sejarah hutan purba. Menurut Scott, proses pembentukan fosil di wilayah ini sangat lain dan lebih dinamis dibandingkan kawasan lainnya.
Epos Pennsylvania yang berlangsung antara 229-325 juta tahun lalu diperkirakan puncak periode pembentukan formasi batubara di wilayah tersebut. Deposit tambang dan fosil di Illinois itu mungkin terbentuk karena gempa besar yang menyebabkan kawasan tersebut lebih rendah dari permukaan laut. Hutan yang terendam air garam kemudian mati dan mulai tertutup endapan-endapan selama jutaan tahun sampai menjadi batubara.
Biasanya, para ilmuwan mencari tahu sejarah kebumian dengan mengebor lapisan batuan secara vertikal dan mempelajari lapisan demi lapisan. Tapi, dengan temuan ini mereka dapat mempelajari satu periode kehidupan di Bumi secara rinci yang terekam dalam satu lapisan yang sangat luas.
wah... ternyata masih ada juga ya fosil2 yang masih bisa digali. Saya kira juga sudah ga ada. tapi Nope lah. Namanya juga Informasi yah. Besok2 mesti ada TIM dari Indonesia yang bisa nemuin temuan2 baru lho yah... masa sih kalah sama negara paman Syam sih... rakyatnya Indo kan ga kalah banyak sama negri paman syam itu. Buat Ilmuan2 indo, jangan nyerah ya untuk selalu menemukan hal2 yang belum ditemukan negara lainnya. Kan kasihan Ilmuan luar nyari penemuan2 sendirian. Mohon dibantu yah...hehehe.....
wah... ternyata masih ada juga ya fosil2 yang masih bisa digali. Saya kira juga sudah ga ada. tapi Nope lah. Namanya juga Informasi yah. Besok2 mesti ada TIM dari Indonesia yang bisa nemuin temuan2 baru lho yah... masa sih kalah sama negara paman Syam sih... rakyatnya Indo kan ga kalah banyak sama negri paman syam itu. Buat Ilmuan2 indo, jangan nyerah ya untuk selalu menemukan hal2 yang belum ditemukan negara lainnya. Kan kasihan Ilmuan luar nyari penemuan2 sendirian. Mohon dibantu yah...hehehe.....


12.10
Rumah Sehat
Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar